TpAlTpA6Tfr5GSd7BUC6GSY7BA==
  • trainerpendidikan@gmail.com
  • +628155555754

IPNU IPPNU Mojokerto Bersama Trainer Pendidikan Soroti Krisis Fokus Gen Z di Era Distraksi

MOJOKERTO – Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Mojokerto sukses menyelenggarakan kegiatan bertajuk "Pelajar Angkat Bicara". Acara ini berlangsung khidmat di Pendopo Graha Majatama, Pemkab Mojokerto pada Ahad (12/04) pagi.

Kegiatan yang dihadiri oleh ratusan pelajar tingkat SMP dan SMA se-Kabupaten Mojokerto ini dibuka secara resmi oleh Istri Bupati Mojokerto; Hj. Shofiya Hana, Lc., yang dalam sambutannya sangat mengapresiasi inisiatif IPNU IPPNU dalam menyediakan wadah bagi generasi muda untuk merespons tantangan pendidikan di era digital. Beliau berpesan agar pelajar Mojokerto mampu menjaga jati diri di tengah derasnya arus informasi.

Hadir sebagai narasumber utama, Dr. Mufarrihul Hazin yang akrap dipanggil Farih, seorang pakar manajemen pendidikan sekaligus Sekjend PP IPNU 2019-2022, membawakan materi bertajuk "Pendidikan dan Gen Z: IPNU IPPNU sebagai Solusi di Era Distraksi". Dalam paparannya, Farih menyoroti fakta psikologis yang cukup memprihatinkan mengenai kebiasaan digital pelajar masa kini. Kegiatan ini ada 3 sesi:

Sesi pertama yaitu "Membaca", Farih memaparkan data bahwa rata-rata pelajar Indonesia menghabiskan waktu hingga 197 menit per hari hanya untuk mengakses media sosial.

"Kita sedang menghadapi ancaman krisis fokus. Attention span Gen Z saat ini berada di angka 8 detik, lebih rendah dari ikan mas koki. Hal ini memicu burnout akademik dan kecemasan berlebih (anxiety) karena otak terus-menerus terpapar dopamin instan dari algoritma video pendek," ujar Farih di hadapan para peserta.

Selain memaparkan tantangan digital, kegiatan ini juga mengajak peserta menoleh kembali ke akar sejarah organisasi. Video dokumenter mengenai sejarah IPNU IPPNU dan kilas balik kepengurusan di Kabupaten Mojokerto diputar untuk membangkitkan kebanggaan kolektif para kader.

Memasuki segmen kedua "Menulis", suasana menjadi lebih reflektif. Para peserta diminta untuk menuangkan pemikiran mereka secara jujur ke dalam tiga poin utama: satu keresahan terbesar, satu harapan masa depan, dan satu solusi nyata yang bisa dilakukan bersama organisasi.

Banyak peserta yang mengungkapkan keresahan mengenai tekanan nilai akademik dan fenomena bullying di sekolah. Melalui sesi ini, IPNU IPPNU diposisikan bukan hanya sebagai organisasi formal, melainkan sebagai Safe Space atau ruang ketiga bagi pelajar untuk bertumbuh di luar jam sekolah.

Sesi "Open Mic": Pelajar Berani Bersuara

Puncak acara ditutup dengan segmen "Berbicara" yang dikemas melalui format Open Mic. Beberapa peserta dengan berani maju ke depan untuk menyuarakan aspirasi mereka. Dialog bebas ini menjawab pertanyaan pemantik seperti: "Apa distraksi terbesar generasimu hari ini?" dan "Solusi seperti apa yang kamu harapkan dari IPNU IPPNU?"

Farih menekankan bahwa keberanian untuk bersuara adalah langkah awal dari kepemimpinan. "Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Organisasi ini harus menjadi ekosistem pembinaan yang solutif, bukan sekadar pelengkap administratif," tegasnya dalam closing statement.

Acara ditutup dengan pemberian apresiasi kepada peserta yang berani bicara dan memberikan jawaban paling inspiratif. Melalui kegiatan ini, PC IPNU IPPNU Kabupaten Mojokerto berharap dapat mencetak generasi yang tidak hanya mahir teknologi, tetapi juga memiliki ketahanan mental dan kepedulian sosial yang tinggi.

0 Komentar

Sarah info

contact sarah

I would like to welcome you to our office and invite you to become better acquainted with the world of pet sitting and my distinct philosophy.

School Form

Popup Image